
Minggu Biasa XXXII
Perayaan Pembaruan Gereja Basilika Lateran
HATI BUKAN SEBUAH PASAR, TETAPI RUMAH TUHAN BERDIAM
(Yeh 47:1-2.8-9.12; Mzm 46:1-3.5-6.8-9; 1Kor 3:9b-11.16-17; Yoh 2:13-22)
"Yesus membuat alat cambuk dari tali, lalu mengusir seluruh orang-orang itu keluar dari Bait Suci bersama kambing-domba dan lembu mereka; uang para penukar dilemparkan-Nya ke tanah, dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya." (Yoh 2:15).
Yesus bersama murid-murid-Nya pergi ke Yerusalem pada saat Hari Raya Paskah.
Saat Yesus tiba, Ia menemukan para pedagang yang sedang berdagang di dalam Bait Allah.
Yesus dengan tegas mengusir, menendang, melemparkan uang mereka ke lantai, meja-meja dijatuhkan.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks tersebut: 1. Beginilah cara Yesus membersihkan Bait Allah dari tindakan tidak bersih yang mengotori tempat ibadah dengan melakukan transaksi jual-beli hewan dan pertukaran uang yang penuh akan praktik kotor. 2. Inilah metode yang digunakan Yesus untuk menyucikan Bait Allah dari kegiatan jual-beli hewan dan penukar uang yang penuh dengan tindakan kriminal. 3. Berikut adalah cara Yesus mengangkat kesucian Bait Allah dari praktik-praktik kotor yang menjadikan rumah Tuhan sebagai tempat perdagangan, termasuk penjualan hewan dan pertukaran mata uang yang penuh dengan mafia. 4. Ini adalah bagaimana Yesus memperbaiki Bait Allah dari aktivitas jual-beli hewan dan penukaran uang yang penuh dengan tindakan tidak bersih dan korupsi. 5. Berikut ini merupakan cara Yesus membersihkan Bait Allah dari praktik kotor yang mengubah rumah Tuhan menjadi tempat transaksi jual-beli hewan dan penukar uang yang diwarnai oleh tindakan mafia. 6. Inilah cara Yesus menegaskan kesucian Bait Allah dengan mengusir praktik jual-beli hewan dan penukar uang yang penuh dengan kejahatan dan ketidakbersihan. 7. Berikut adalah metode yang ditempuh Yesus dalam menyucikan Bait Allah dari kegiatan transaksi jual-beli hewan dan penukar uang yang penuh dengan aksi kotor dan mafia. 8. Beginilah Yesus membersihkan Bait Allah dari tindakan tidak pantas yang menjadikan tempat ibadah sebagai lokasi perdagangan hewan dan penukaran uang yang penuh dengan praktik kriminal. 9. Ini adalah cara Yesus mengembalikan kesucian Bait Allah dari aktivitas jual-beli hewan dan penukar uang yang penuh dengan tindakan tidak bersih dan mafia. 10. Berikut ini adalah bagaimana Yesus mengusir praktik kotor yang mengotori Bait Allah melalui transaksi jual-beli hewan dan penukar uang yang penuh dengan tindakan kriminal.
Penyimpangan harga baik hewan yang menjadi korban maupun nilai tukar mata uang yang diperjualbelikan.
Mereka sibuk mengurus bisnis demi keuntungan finansial semata, sementara hal-hal spiritual yang menjadi inti dari keberadaan mereka di Bait Allah dikesampingkan.
Perbuatan Yesus tajam dan keras bertujuan untuk menghilangkan transaksi dunia yang penuh tipu muslihat.
Mencegah usaha yang mengotori kehidupan dengan dosa dan tindakan kosong yang tidak bermakna dalam ketidaktahuan.
Hati dan pikiran mereka dipenuhi dengan perhitungan bisnis, keuntungan setiap tahun pada Hari Raya Paskah.
Saat hati berubah menjadi pasar - bisnis ekonomi, jelas bahwa aktivitas duniawi dan materi lebih mendominasi daripada hal-hal spiritual.
Yesus ingin memulihkan hidup orang-orang yang rentan menjadi hamba uang menjadi hamba Yahwe yang sejati.
Namun, kehidupan yang telah terlalu rusak akibat uang tidak lagi mudah diperbaiki, selain tindakan kriminal yang berikutnya muncul.
Di tengah kekacauan yang besar, mereka menantang otoritas Yesus. Jawaban Yesus tegas, "Hancurkan Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan membangunnya kembali." (Yoh 2:19).
Yesus membuka mata hati mereka agar dapat melihat siapa Dia dengan lebih dalam. Bait Allah yang sebenarnya adalah diri Yesus sendiri.
Sebagai pengikut Tuhan, kita juga diundang untuk menjadi rumah Allah yang hidup.
Dalam ayat-ayat Allah, terdapat kasih yang senantiasa mengalir seperti air. Yehezkiel, dengan bantuan malaikat, melihat air mengalir dari Bait Suci; "Di mana pun air itu mengalir, segala sesuatu di tempat itu hidup."
Di tepi sungai tumbuh berbagai jenis pohon buah-buahan, yang daunnya tidak pernah layu dan buahnya tidak pernah habis. (Yeh 47:9.12)
Rezeki Allah seperti air, di mana dan kapan saja ia turun, selalu membawa kebahagiaan dan rasa gembira dalam kehidupan. Ada kehidupan yang hadir dalam tubuh yang rapuh.
Dengan semangat rohani yang kuat, Pengarang Mazmur berseru, "Tuhan adalah tempat perlindungan dan kekuatan bagi kita, sebagai penolong yang terbukti dalam kesulitan yang sangat parah."
Oleh karena itu kita tidak perlu takut, meskipun bumi berubah, meskipun gunung-gunung goyah di tengah laut." (Mzm 46:1-3).
Tuhan adalah perlindungan dan kekuatan kita. Karena Tuhan berada dalam diri Yesus, Dia juga hadir di dalam diri kita yang sementara ini.
Maka Santo Paulus menegaskan bahwa tubuh kita merupakan tempat tinggal Tuhan.
"Kamu adalah tanah milik Tuhan dan bangunan-Nya. Jika ada seseorang yang merusak Bait Tuhan, maka Tuhan akan merusaknya. Karena Bait Tuhan adalah kudus dan Bait Tuhan adalah kamu." (1Kor 3:9b.17).
Jasad kita merupakan rumah Tuhan, tempat Roh Tuhan tinggal.
Paulus memanggil kita untuk berupaya menjadi rumah Tuhan yang hidup.
Berbagi kasih dan berkat dalam kehidupan bersama yang menghadirkan kebahagiaan dan rasa gembira.
Sebagai tanah yang menghasilkan buah-buah kebaikan yang tak pernah habis, harus dibagikan.
Jangan biarkan hati yang terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan kehidupan dunia. Pada hari Minggu, banyak orang pergi ke pasar dan lalai bahkan lupa mengunjungi gereja (hati pasar, hati ekonomi). Hati mereka bukan lagi menjadi tempat Tuhan, melainkan arena perdagangan.
Yesus Tuhan, seperti Ia membersihkan Bait Suci Yerusalem, Ia juga ingin mengembalikan kebersihan hati dan pikiran kita. Ia memperbaiki rumah diri kita menjadi tempat doa, tempat kasih bagi semua orang yang berkehendak baik.
Ayo, setiap hari Minggu kita pergi ke gereja, membawa rumah Tuhan dalam diri masing-masing untuk bersatu dengan Gereja besar Yesus Kristus yang menjadi kepala gereja.
Setiap hari Minggu, Tuhan berkeinginan untuk memperbaiki diri kita yang lemah akibat dosa.
Jiwa yang mudah terkena dosa, Yesus ingin membersihkannya.
Tuhan ingin menyembuhkan kita, bahwa hati kita bukanlah pasar yang membuat kita hanya sibuk dengan urusan dunia (pasar hari Minggu sudah menjadi hal biasa) dan lupa bahwa diri kita adalah tempat tinggal Tuhan dalam hal rohani.
Kita memenuhi kerinduan Tuhan yang dengan api kasih-Nya ingin menyucikan dan memperbaiki bait hidup kita yang rapuh dan tercemar.
Selamat hari Minggu. Tuhan memberkati kalian semua. (RP. FF. Arso Kota, Minggu/Pekan Biasa XXXII/C/I, O91125).
0 Response to "Renungan Harian Katolik: Hati Bukan Pasar, Tapi Rumah Tuhan"
Posting Komentar