
MANDALIKA PEMIKIRAN RAKYAT - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang menghadapi tantangan besar dalam bidang ketenagakerjaan. Jumlah pengangguran di NTB mengalami peningkatan yang signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) NTB melaporkan pada Agustus 2025, terdapat 97.930 orang yang menganggur.
Angka ini meningkat sebanyak 10.920 orang dibandingkan dengan periode sebelumnya. Keadaan ini semakin memprihatinkan, mengingat banyaknya pengangguran berasal dari lulusan perguruan tinggi atau sarjana yang tidak mampu diterima di pasar kerja. Sebaliknya menjadi alat pembangunan, peningkatan jumlah lulusan di NTB kini justru menjadi salah satu faktor terbesar dalam angka pengangguran terbuka.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, Muslim menegaskan bahwa inti dari masalah ini terletak pada ketidakseimbangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan keberadaan lapangan kerja di wilayah tersebut. Sebagai contoh, satu universitas bahkan mengadakan wisuda hingga empat kali dalam setahun. Namun, perusahaan tetap memiliki standar kompetensi tertentu yang tidak selalu dapat dipenuhi oleh lulusan tersebut.
"Salah satu hambatan yang kita hadapi saat ini, yaitu mengapa kita tidak mampu menyeimbangkan antara jumlah tenaga kerja yang lulus saat ini, bahkan sudah jauh sebelumnya. Potensi pengangguran sangat besar, selain karena ketersediaan lapangan kerja yang tidak seimbang," ujar Muslim, kepada Radar Lombok, Kamis (6/11).
Menurut pandangan Muslim, setiap tahun ribuan tenaga kerja baru dilemparkan ke pasar. Namun, pertumbuhan investasi dan pengadaan pekerjaan belum mampu mengimbangi peningkatan tersebut. Selain ketidakseimbangan jumlah, faktor keterampilan juga menjadi hambatan besar bagi lulusan lokal dalam bersaing. Banyak lulusan hanya memiliki ijazah tanpa keterampilan tambahan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
"Kemampuan tenaga kerja kita masih sangat terbatas. Hal ini menyebabkan lulusan kesulitan memasuki dunia kerja, karena tidak sesuai dengan kebutuhan perekrut," ujar Muslim.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi NTB mulai melakukan perbaikan yang serius. Dengan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2025 tentang Ketenagakerjaan, pemerintah sedang menyusun Sistem Informasi Tenaga Kerja yang akan menjadi acuan kebutuhan tenaga kerja di masa depan.
Dengan peraturan gubernur yang sedang dalam penyusunan, perusahaan akan diminta untuk menyampaikan rencana kebutuhan tenaga kerja hingga lima tahun mendatang. Tujuannya adalah agar pemerintah mampu mempersiapkan sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan nyata sektor industri.
Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia lokal agar mampu bersaing, baik di tingkat dalam maupun luar negeri. Muslim memberikan contoh kesempatan kerja di Jepang dengan kuota nasional mencapai 100 ribu orang. Di mana Nusa Tenggara Barat berharap dapat mengirim sebanyak 10 ribu tenaga kerja yang memiliki kompetensi tinggi.
"Jangan sampai NTB hanya mengirimkan fisik saja. Kita perlu memastikan mereka berangkat dengan keterampilan yang dikuasai, sehingga dihargai dan mendapatkan pekerjaan yang layak," tegasnya.
Pemerintah berupaya meningkatkan sertifikasi dan pelatihan tambahan bagi lulusan perguruan tinggi agar siap menghadapi dunia kerja yang semakin kompetitif. Bukan masalah gengsi, menurut Muslim, tetapi fakta bahwa banyak lulusan perlu ditingkatkan keterampilannya melalui pelatihan tidak formal. Terutama di bidang yang memerlukan kemampuan teknis tambahan.
"Mereka sebenarnya memiliki kemampuan dasar, hanya perlu penguasaan lebih lanjut. Seperti penguasaan alat, pemetaan, sistem informasi geografis dan sebagainya," tambahnya.
Sebelumnya, Kepala BPS NTB Wahyudin menambahkan beberapa pencapaian dan tantangan dalam bidang ketenagakerjaan NTB pada triwulan III 2025. Jumlah angkatan kerja di NTB mencapai 3,20 juta orang. Meningkat sebanyak 12.010 orang dibanding tahun sebelumnya. Tingkat partisipasi angkatan kerja mengalami penurunan sebesar 1,12 poin persen. Penduduk yang bekerja berjumlah 3,11 juta orang, naik sebanyak 1.180 orang.
" Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) meningkat menjadi 3,06 persen," kata Muslim sambil menambahkan, sektor pendidikan mengalami peningkatan terbesar dalam jumlah tenaga kerja sekitar 20.140 pekerja. Persentase tenaga kerja formal juga naik menjadi 31,58 persen. Tenaga kerja paruh waktu juga mengalami kenaikan. ***
0 Response to "Pengangguran Naik di NTB"
Posting Komentar